Judul: Provokasi 2. Mantra. Mengubah Nasib dengan Kata
Penulis: Prasetya M. Brata
Halaman: xxix+ 215
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Dalam buku Provokasi 2 ini, Prasetya M. Brata mencantumkan larangan dan peringatan yang harus diwaspadai oleh pembacanya. Larangan yang ia terapkan adalah dilarang menggunakan speed reading. Kemudian peringatan yang ia keluarkan, bahwa ada kemungkinan pembaca akan mengalami gangguan pikiran dan itu merupakan tanggung jawab pembacanya sendiri.

Dijamin ketika membaca buku ini kita akan kembali badai di dalam alam berpikir kita. Kali ini badai yang datang sungguh hebat meluluh-lantakan dan mencerabut semua akar berpikir yang bertolak-belakang dengan buku ini. Dari awal Pras sudah ‘menyeret’ –kata itu lebih tepat ketimbang mendorong, pembacanya ke arah yang lebih positif dalam hidupnya. Bahwa hidup ini memilih, bila sudah puas dengan kehidupan yang Anda miliki saat ini. Maka kami sarankan jangan pernah membeli apalagi membaca buku ini!

Larangan seperti itu apakah akan Anda patuhi, kami pikir tidak! Anda akan bergegas ke toko buku dan membeli buku ini. So, bila memang demikian bersiaplah untuk menghadapi kehidupan yang jauh lebih meriah dan bermakna. Itulah Pras! Ia tidak hanya membuat kehidupan pembacanya menjadi lebih bermakna dalam artian positif, tapi juga jauh lebih meriah lagi.

Seperti pada kisah ‘Kita Mampu Memilih’ (halaman 20), Pras membukakan mata bahwa dari sebuah hal yang negatif masih bisa didorong menjadi hal yang positif. Asal cara berpikir kita juga positif. Tak perlu menuruti nafsu negatif dan kemenangan pribadi yang berujung pada konflik. Kisah tahi kerbau yang baunya super tidak enak, berubah menjadi pupuk tanaman juga pupuk bersosialisasi untuk membangun keakraban terhadap lingkungan.

Mari melihat bagian ‘Magang Dulu’ (halaman 86), Pras membeberkan buku pertamanya yang memberikan motivasi positif bagi seorang pembacanya.Namun semangat itu kemudian memudar ditelan oleh lingkungannya tak berapa lama kemudian. Pras tak menampik semua itu bahkan ia menuliskan pada paragraf terakhir di halaman 86, ‘Meskipun buku PROVOKASI sebagian besar merupakan dokumentasi dari praktek yang saya lakukan, tapi buat orang lain yang membaca tetaplah jadi teori, sampai ia sendiri mempraktikannya’, disini Pras menyampaikan bahwa bukunya hanyalah sebuah buku tak bermakna apapun bila pembacanya tak tergerak untuk melakukan perubahan bagi dirinya.

Bagi Anda yang belum pernah membaca buku Provokasi 1, kami sarankan untuk membaca buku pertama. Sehingga dalam buku kedua ini Anda tidak seperti terbanting-banting ketika membacanya. Sekali lagi bila Anda sudah cukup puas dengan kehidupan Anda saat ini, jangan berpayah-payah untuk membelinya! Buku ini bukan untuk menaikan gengsi Anda, namun perubahan ke arah yang lebih baik.

Share this article

Redaktur