by Dian Ramadhan

Dalam kehidupan manajemen sebuah perusahaan, seorang staff atau sebuah divisi dituntut untuk dapat mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Tak pelak lagi jika mereka kemudian disibukan oleh tugas-tugas seperti itu, tentunya atas nama kepentingan perusahaan atau lembaga tertentu. Para leader tersenyum ketika menyaksikan tugas dapat dilaksanakan dengan baik dengan hasil yang memuaskan. Apakah demikian?

Begitu juga dalam tim, semua terlihat mengerjakan tugas yang diberikan oleh leader. Target adalah hal yang tidak terbantahkan dalam kepala mereka. Semua mengejar target yang sudah dicekoki sebelumnya. Apakah ini sebuah bentuk kerja sama dalam tim? Ketika semua mengerjakan tugasnya masing-masing? Jawabannya pasti tentu! Dilihat dari sudut manapun tim ini sangat positif. Yakni mengerjakan tugas untuk mencapai target perusahaan.

Benarkah?

Sebagian ada benarnya. Mengapa sebagian benar? Padahal jelas-jelas pekerjaan sudah dikerjakan dengan proses yang baik sesuai prosedural dan target pun tercapai. Ini karena mereka sebenarnya bekerja sendiri-sendiri meskipun berada dalam satu tim atau divisi. Ingatlah bahwa dasar pertama dari sebuah tim atau divisi adalah bekerja-sama bukan sama-sama bekerja.

Tugas yang dikerjakan oleh masing-masing personil memang menjadi bagian dari penugasan yang diberikan oleh leader atau pimpinan. Tapi apakah Anda, kita atau mereka sadari bahwa sebenarnya yang dikerjakan itu merupakan kesibukan mengurus diri sendiri. Kesibukan yang hanya berputar pada dirinya sendiri bukan orang lain. Kesibukan yang menitik-beratkan pada penyelesaian tugasnya sendiri sebagai anggota tim.

Memang benar, personil ini adalah bagian dari tim yang mempunyai tugasnya. Namun bukan berarti personil ini dapat berdiri sendiri dengan menyelesaikan tugasnya. Ketidak-pedulian membantu personil lainnya secara tidak disadari muncul ketika tengah mengerjakan tugasnya sendiri. Tanpa disadari kita pernah menolak permintaan tolong rekan kerja kita, dengan alasan kita tengah mengerjakan tugas sendiri yang jauh lebih penting dari sekedar menolongnya. Inilah yang dinamakan kesibukan mengurus diri sendiri.

Kita tak memperdulikan orang lain, karena kita menganggap bahwa kita tengah mengerjakan tugas yang bobotnya lebih besar yakni tugas dari perusahaan. Tidak ada salahnya sama sekali, justru hal itu positif, sangat positif memiliki sikap seperti itu. Berkata, ‘sebentar’, sudah merupakan bentuk penolakan untuk memberikan uluran tangan.  Kesibukan mengurus diri sendiri inilah yang kemudian mengabaikan semua hal yang ada di luar diri kita. Egois? Mungkin. Tidak perduli? Bisa jadi. Tak sepenuhnya orang yang sibuk mengurus dirinya sendiri, dapat dianggap seperti itu.

Bagaimana mengatasi hal ini? Dibutuhkan kehadiran seorang leader yang mampu melihat adanya ‘kesibukan mengurus diri sendiri’. Dengan demikian leader itu bisa memberikan pengarahan sesuai dengan kebutuhan pada saat itu. Gaya otoriter dibutuhkan dalam sikap kepemimpinannya, yang tak boleh dibantah dan harus dituruti. Namun pemimpin ini tidak boleh berat sebelah, karena ia harus tetap membuat timnya terus berjalan. Pemimpin ini adalah orang yang tetap menjaga semangat kebersamaan, bagaimana setiap anggota timnya saling bekerja-sama, bukannya sama-sama bekerja.

Tidak ada salahnya mengerjakan pekerjaan sendiri dengan baik dan benar. Toh, itu sebagai bentuk dari proses pencapaian target. Namun ada baiknya tidak terjebak dalam kondisi ‘kesibukan mengurus diri sendiri’. Masih ada rekan-rekan lain di sekitar kita yang terkadang membutuhkan pertolongan atas pekerjaannya. Tapi juga jangan terlalu baik, nanti Anda dikira ‘sok pintar’. So, mulailah peka dengan lingkungan kerja Anda, jangan terlalu menyibukan mengurus diri sendiri. (Inspirasi: ‘Dua Tangis dan Ribuan Tawa’ Dahlan Iskan)

Share this article

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>