by Dian Ramadhan

“Dengan planning yang saya buat, saya yakin akan mendapat Rp.1 milyar dalam jangka waktu satu tahun!”

Hebat! Itulah kata yang terucap ketika mendengar optimisme seperti itu. Betapa tidak, orang lain yang melihat seseorang merencanakan usahanya dengan target Rp.1 milyar dengan waktu hanya satu tahun. Ini adalah bentuk sebuah optimisme yang sangat kuat. Seseorang itu memiliki keyakinan yang sangat kuat bahwa target satu milyar dapat mudah diraihnya dengan planning yang tepat dan baik.

Salahkah menjadi optimis? Sama sekali tidak salah untuk menjadi optimis, hanya kurang tepat saja. Mengapa kurang tepat? Pasti demikian pertanyaan yang muncul. Seseorang yang sangat optimis, yang sangat kuat dengan keyakinan merebut targetnya itu, sebenarnya terlalu berlebihan dalam menilai dirinya. Celakanya penilaian itu datangnya dari diri sendiri. Padahal penilaian yang baik adalah berasal dari orang lain yang umumnya bersifat obyektif.

Akankah sebuah otimisme yang begitu kuat akan berubah menjadi sebuah kegagalan? Tidak juga! Optimisme juga tidak membuat seseorang pemiliknya menjadi sombong. Optimisme tidak sama dengan kesombongan, hanya saja orang ini seperti mengidap megalomania alias percaya dengan kekuatannya sendiri. Kekuatan itu kemudian ia pupuk sendiri dan berkembang serta dipercaya mendatangkan kemampuan untuk mencapai target yang dibuatnya.

Optimisme umumnya dapat membawa seseorang pada kesuksesan. Hanya saja bila optimisme itu menjadi sedemikian kuatnya akan menggelapkan mata seseorang. Yang dilihatnya hanyalah targetnya saja. Ketika target yang hendak dicapai ternyata meleset –bukannya gagal, optimisme yang sudah begitu kuat dalam dirinya akan langsung runtuh, rata dengan tanah.

Sebenarnya peraihan yang dibuat oleh seseorang itu tidaklah seburuk yang ia bayangkan. Seseorang yang memiliki optimisme yang begitu kuat, tidak melihat proses yang berjalan. Padahal proses itulah yang sebenarnya jauh lebih penting ketimbang meraih target. Dalam berproses itulah seseorang dapat belajar dan mengetahui nilai-nilai yang sebenarnya tengah ia pelajari. Ketika seseorang dalam perjalanan berusaha mewujudkan targetnya, seandainya matanya tidak tergelapkan ia akan melihat nilai-nilai yang ada sebagai barometer pencapaian target tersebut. Barometer inilah yang dipakai sebagai jalan untuk mendapatkan hasil pencapaian target.

Kebanyakan orang tidak membaca barometer yang terdiri dari angka-angka yang ada ketika melakukan proses. Angka-angka inilah yang menjadi penunjuk jalannya sebuah proses usaha. Hasil dari pencapaian target tersebut dapat terbaca dari angka-angka yang terpampang jelas di depan mata. Memang angka-angka tersebut bukanlah sebuah hasil yang hendak dicapai. Namun kesuksesan yang diraih –apapun hasil yang tercapai, terukur dari barometer tersebut.

Planning alias bussiness plan (BP) merupakan gambaran keseriusan seseorang mengerjakan usaha atau bisnisnya. Tanpa adanya BP itu, sebuah proses usaha tidak akan berjalan dengan baik. Sama halnya dengan tanpa adanya keyakinan atau optimisme ketika menjalankannya. Optimisme atau keyakinan dibutuhkan untuk menjalankan usaha agar langkah yang diambil tidaklah limbung.

Optimisme itu layaknya bensin yang terus-menerus memberikan bahan bakar di ruang pembakaran yang membuat ledakan untuk menggerakan motor. Keyakinan ini membantu seseorang untuk terus melangkah hingga garis finish. Sebuah ironi, optimisme sangat dibutuhkan untuk tetap menjaga semangat berkobar meraih target. Namun optimisme tidak boleh berlebihan yang mengarahkan seseorang pada kegelapan jauh dari logika. Bekalilah diri dengan optimisme itu, optimisme yang sewajarnya. Kemudian kerjakanlah langkah-langkah BP yang dibuat sesuai kehendak kita dalam koridor yang memenuhi etika.

Share this article

One comment on “Optimisme, Sebuah Kegagalan?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>